Home / Objek Kebudayaan / Manuskrip / JUMEDHULING MAHESA SURA
| Nama | Bergodo Lombok Abang |
|---|---|
| Alamat | - |
| Penanggung jawab | Junarto |
| Telpon | - |
| - |
| Nama | Kantor Kalurahan Srigading |
|---|---|
| Alamat | Tinggen, Srigading, Sanden, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta 55763 |
Nun jauh waktunya, menurut cerita turun temurun, dahulu kala penduduk kawasan tersebut kondisinya sangat memprihatinkan. Masyarakat dilanda kesusahan, mereka kekurangan sandang dan pangan, timbul pula wabah penyakit yang membuat penduduk sangat menderita. Melihat kondisi itu para bekel dan juga pimpinan adat mengadakan rembug warga. Dalam rembug warga itu menyimpulkan bahwa untuk menghilangkan mala petaka tersebut diadakan upacara ritual guna memohon kepada Yang Maha Kuasa agar penderitaan masyarakat segera berakhir dan diganti dengan kebahagiaan. Pada hari yang telah ditentukan masyarakat menggelar upacara ritual yang dipimpin oleh empat orang bekel yaitu :Ki Bekel Kentol Secawijaya, Ki Bekel Jopawira, Ki Bekel Onggoyuda dan Ki Bekel Joyuda. Seusai keputusan rembug warga, upacara ritual dilaksanakan di Pantai Selatan hari tanggal 1 Sura tahun Wawu 1817 Jawa Windu Adi, lengkap dengan sesaji uborampenya, pisang emas, pisang raja, nasi rosul, jajan pasar tumpeng among dan jenang komplit. Seusai doa bersama, semua ubo rampe di larung ke Laut Selatan. Dengan khusuk warga masyarakat mengamati alur sesaji yang tampak pelan mengapung ke arah Selatan. Tanpa diduga tiba-tiba ombak besar bergulung berbenturan menghempas ke pantai. Ombak besar tidak lama segera surut dan tenang kembali. Pandangan mata mereka masih tertuju pada permukaan laut. Tiba-tiba terlihat wanita cantik, anggun berpakaian serba hijau pupus muncul ke permukaan laut menatap warga yang berkumpul, seolah-olah memberi isyarat dengan telapak tangannya digoyangkan ke kanan dan ke kiri, melambai-lambai, kemudian perlahan lenyap dari pandangan mata. Masyarakat menyebut wanita tersebut dengan sebutan “Kanjeng Ratu Kidul†sang penguasa Laut Selatan. Sepeninggal wanita tersebut ombak besar kembali terjadi, muncullah seekor kerbau raksasa nan seram melompat membabi buta ke darat menerjang kerumunan warga. Dengan sekuat tenaga warga pesisir Laut Selatan berusaha menjinakkan, tetapi usaha mereka selalu gagal. Sesepuh wilayah itu, Ki Bekel Kentol Secawijaya dengan kesaktiannya dengan berbekal senjata cambuk sakti peninggalan kakeknya, berusaha menaklukkan kerbau ganas tersebut. Akhirnya perjuangan Ki Bekel Kentol Secawiyaja berhasil, dia dapat menaklukkan kerbau itu. Kerbau tersebut diberi nama “Maesa Sura†karena peristiwa itu terjadi bertepatan dengan kemunculannya pada tanggal 1 bulan Sura. Selanjutnya Ki Bekel Kentol Secawijaya memerintahkan supaya kerbau tersebut dipelihara dan dimanfaatkan sebagai pejantan agar populasi kerbau terus meningkat dan dapat dijadikan mitra kerja petani. Seiring dengan perjalanan waktu belum sampai belasan tahun populasi kerbau sudah meningkat mencapai harapan ideal. Petani dengan kesungguhan hati menekuni lahan mereka masing-masing, menggarap sawah dengan “nggaru†– “ngluku†dengan kerbau mereka. Karena limpahan anugerah Tuhan didorong oleh semangat bertani yang tekun, kondisi masyarakat cepat berubah menjadi sejahtera, rukun damai dibawah pimpinan para bekel tersebut. Wujud rasa syukur masyarakat digambarkan dengan suasana suka ria dengan menampilkan tari Tayub oleh para pemuda dan pemudi. Di samping itu, karena hasil panen para petani melimpah, mereka membuat “gunungan†rangkaian hasil panen mereka yang dibentuk seperti gunung, diarak dan dibagikan kepada masyarakat lain yang membutuhkan. Hingga sekarang dan seterusnya, setiap malam 1 Sura diselenggarakan labuhan sesaji di pantai Samas Srigading. Makna dari labuhan sesaji sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan memohon anugerahnya.
© Direktori Kebudayaan Kabupaten Bantul. All Rights Reserved.
Designed by HTML Codex | Developed By WF